Jejak Awal di Pendakian Akhir

grad2

Kepingan perjuangan memang selalu indah untuk ditelisik. Mengapa tidak, rangkaian perjuangan dari sebuah perjalanan memiliki serentetan kisah yang telah mengajarkan banyak pengalaman dan memberikan makna yang penuh warna. Layaknya sebuah pendakian yang jauh, berlika-liku, dan terjal, tetapi indah dan menentramkan saat telah sampai ke gunung yang dituju. Hingga tanpa sadar segala lelah seketika sirna dan terbayar dengan sendirinya. Sederhananya, kali ini tentang kisah yang melengkapi jejak setiap mahasiswa dalam pengembaraan ilmu. Ya, lebih tepatnya tentang sebagian dari perjuangan yang mengantarkan pada pintu gerbang menjadi seorang Sarjana. Sebuah akhir yang menjadi awal dari segalanya dengan hal-hal yang akan lebih menantang lagi kedepannya. Pun, sebuah akhir dengan hadiah gelar akademik di belakang nama yang menjadi rekam ilmu pertama sekaligus amanah awal yang harus terus dipertanggungjawabkan.

Perjuangan ini tidaklah semudah menuliskan kata ataupun kisahnya. Telah begitu banyak sejarah dari kerja keras yang tercatat dibaliknya. Mulai dari awal mengenyam pendidikan di bangku kuliah hingga berbagai hal tentang penyelesaian skripsi. Dari rangkaian perjuangan itu, penulisan skripsi menjadi satu-satunya kisah dengan sejuta pengalaman dan pembelajaran. Sekalipun tanpa adanya kegiatan perkuliahan, 6 SKS itu memiliki efek yang lebih kuat dari ratusan SKS yang telah diselesaikan sebelumnya. Ya, efek yang lebih kuat pada jiwa dan mental seorang mahasiswa.

Saat ini, skripsi masih menjadi satu-satunya tombak kelulusan untuk dinobatkan sebagai lulusan S1 di Indonesia. Terkadang proses penulisan skripsi lebih dulu diawali dengan kelas pengajuan judul untuk seminar proposal. Yaitu, di sebuah mata kuliah yang disebut Seminar Praskripsi. Masa dimana aktivitas sebagai akademisi mulai sangat merasuk jiwa. Mulai dari keluar masuk Perpustakaan Kampus ataupun Fakultas yang jadi lebih sering; bolak-balik presentasi depan kelas tentang judul setiap minggu; atau hanya sekedar mengincar Dosen Pembimbing Mata Kuliah Seminar Praskripsi untuk berkonsultasi sebelum mengumpulkan draft proposal untuk dinilai dan mendaftarkan diri pada Seminar Proposal Penulisan Skripsi. Proses awal dari penulisan skripsi yang setidaknya mengajarkan lebih dalam tentang arti tanggungjawab, kreativitas, kesabaran, tekad yang kuat dan menghargai waktu.

Selanjutnya, proses penulisan skripsi dilalui dengan masa konsultasi bersama para pembimbing yang telah ditentukan. Masa menghabiskan waktu lebih banyak pada penantian selain menuliskan ide-ide menjadi puluhan lembar karya. Entah itu menunggu dosen pembimbing di emperan jurusan, berganti ke kantin, mushalla, perpustakaan fakultas ataupun perpustakaan pusat hingga jadwal yang telah disepakati; menunggu hingga mereka tidak sibuk di Ruang Dosen; menunggu hingga mereka balik dari luar kota; menunggu hingga mereka tidak sibuk dengan kegiatan konferensi, seminar, dan pelatihan-pelatihan lainnya; menunggu hingga mereka tidak sibuk menulis jurnal; menunggu hingga mereka mengembalikan revisi skripsi, dll; serta mempersiapkan mental dan daya kognitif tentang semuanya yang ditulis di skripsi sebelum masa konsultasi tiba; mempertanggungjawabkan format penulisan, ide, makna, kelogisan, dll; serta malam-malam yang dilewati berdua bersama deadline revisi. Serentetan masa jatuh dan bangun itu memang membutuhkan keteguhan hati untuk tidak mudah menyerah. Karena disinilah niat awal seorang mahasiswa diuji – niat untuk memulai, berkomitmen untuk sungguh-sungguh dan bertanggungjawab atas pilihan dengan menyelesaikannya. Seperti proses sebelumnya, hal ini juga menempa mahasiswa dengan sejuta pengalaman dan pembelajaran sesungguhnya. Proses dimana seorang mahasiswa harus lebih sering membaca, lebih teliti menulis, lebih kritis berargumen, lebih bertanggungjawab dengan buah pikirannya, lebih jeli mendengarkan saran dan nasehat yang bersifat membangun, lebih terbiasa beradaptasi dengan orang yang lebih tua, lebih bijak menyikapi perbedaan, lebih tahan mental, dan lebih pintar mengatur waktu.

Pada akhirnya, semua perjuangan itu menemui takdirnya. Ada yang enam bulan, hampir setahun, atau mungkin hingga tiga tahun. Tentu saja semuanya sangat ditentukan dengan si pelakon proses, para tokoh yang menyertai proses, serta takdir dari proses itu sendiri yang telah dicatatkan olehNya. Yang terpenting adalah tetap terus berusaha karena segalanya tak mungkin berada di puncak jika hanya berdiam diri dan berpangku tangan. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan yang ada karena sesungguhnya sebuah kesalahan adalah awal mula untuk belajar. Tak ada kata tidak dalam bentuk apapun karena seharusnya hal itu lebih mengokohkan langkah pada kesempatan selanjutnya. Pun, tak ada kata akhir karena akhirnya adalah usaha yang terus-menerus hingga deretan kesalahan lelah mengikuti. Sehingga, berterimakasihlah untuk sebuah proses yang mengajarkan lebih dalam tentang arti tanggungjawab, kesabaran, ketulusan, tekad yang kuat, manajemen konflik, negosiasi, introspeksi diri, menghargai pendapat, menghargai waktu, menghargai yang lebih tua, menghargai pentingnya menyerahkan segala hal kepada Tuhan, dan tentu saja menghargai proses.

Jejak awal di pendakian akhir itu memang tidaklah semudah pendakian awal, tetapi akan membuat orang yang telah berproses bersamanya menjadi terbiasa dengan jejak-jejak selanjutnya. Ya, jejak-jejak di pendakian yang lebih terjal dimana segalanya akan lebih menantang lagi kedepannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s